Sahabat-sahabat dan kamerad-kameradku, di dalam dan di luar tembok-tembok ini, Damai besertamu.
Aku menulis untuk memberitahu kalian bahwa, berkat kekuatan apa pun yang masih menjaga para terhukum, aku masih bertahan. Beberapa waktu lalu aku sempat terserang demam ringan, tetapi aku tetap bertahan. Kuharap kalian semua dalam keadaan selamat, hidup, dan tak tertekuk.
Aku sudah tidak ingat lagi berapa banyak surat yang ditelan birokrasi penjara sebelum yang ini akhirnya lolos. Peralatan tulis sangat langka di sini, dan jika pun ada, tidak pernah bertahan lama. Saat menulis kata-kata ini, aku masih dikurung dalam karantina, tanpa kepastian kapan—atau apakah—aku akan dipindah. Namun sejujurnya, satu blok atau blok lain rasanya tidak berbeda. Seluruh mesin karceral terasa sama: sebuah aparat isolasi dan pemusnahan perlahan yang telah disempurnakan. Satu-satunya hal yang benar-benar kuinginkan, satu-satunya tuntutan yang tak mau mati di dalam diriku, adalah kemerdekaan. Aku ingin pulang. Aku ingin merasakan masakan ibuku lagi. Aku ingin duduk bersama keluargaku tanpa pengawasan dan tanpa patah.
Maafkan jika kata-kataku terasa berserakan. Aku menulis dengan tergesa-gesa dan dengan sangat terbatas. Penjara tidak hanya mengurung tubuh—ia melumpuhkan pikiran, menumpulkan indra, dan berusaha mengubah pemberontak menjadi bayangan yang patuh.
Baru-baru ini aku sempat melihat dunia luar lagi saat sidang mingguan. Rasanya luar biasa—ada lonjakan kegembiraan yang langka, bahkan emosi. Aku bertemu kamerad-kamerad lama dan yang baru. Terima kasih telah datang. Terima kasih telah berdiri di sisiku. Aku membawa kalian semua bersamaku.
Aku juga mendengar bahwa saudaraku Albi akhirnya telah dibebaskan dari Bandung. Alhamdulillah. Berita itu membawa kebahagiaan yang sejati. Aku berdoa agar yang lainnya yang masih terkunci segera bisa menghirup udara bebas.
HINGGA SEMUA ORANG BEBAS. HINGGA SETIAP PENJARA RATA DENGAN TANAH.
Aku dipenjara lagi atas kasus yang sama. Begitu aku keluar, penyakit yang kusebut ACAB langsung datang menjemput. Mereka datang jauh-jauh dari Surabaya hanya untuk menjalankan tugas absurd lainnya. Pasti ada imbalan yang mereka terima atas penangkapanku. Entah apa. Hal-hal seperti ini hanya membuatku semakin tidak percaya pada negara. Negara memang tidak pernah layak dipercaya sejak awal. PENDUSTA! Mereka tidak akan ragu memburu siapa pun yang berani mengatakan “tidak” kepada mereka. Dan mungkin, pada akhirnya, hanya kematian yang bisa memuaskan nafsu mereka.
Selama dikurung dalam karantina, aku berusaha bertahan sebaik mungkin dalam kesengsaraan ini. Dan aku terus bertanya: sejak kapan menolak negara menjadi kejahatan? Sejak kapan tindakan tidak patuh mengubah seseorang menjadi teroris, komunis, pengkhianat, atau label apa pun yang digunakan spektakel untuk menandai mereka yang menolak integrasi?
Bagaimana mungkin pembangkangan tidak ada, sementara manusia masih mampu melihat, mendengar, dan merasakan realitas hidup mereka sendiri?
Lihatlah Pati, di mana rakyat bangkit melawan pemimpin korup yang menindas komunitas mereka sendiri. Lihatlah kebangkitan Agustus, ketika massa demonstran disapu secara membabi buta dan diseret seperti hewan ke dalam kandang. Lihatlah berbagai ledakan lainnya yang menyusul. Bukankah semua itu justru dibudidayakan oleh negara itu sendiri?
Di tengah keruntuhan ekonomi, kemiskinan massal, dan ancaman perang yang terus mengintai, manusia hanya menginginkan hal yang paling mendasar: makan, bertahan hidup, tidak kelaparan. Ketika keputusasaan mencapai batasnya, perang sosial menjadi tak terhindarkan — orang-orang saling menyerang, saling memakan. Negara bukanlah pengamat netral. Ia adalah sutradara di balik tirai, yang mengatur seluruh spektakel.
Mereka yang membawa amarah ke jalanan ditangkap dan dijerat dengan tuduhan penghancuran, vandalisme, kerusuhan—label apa pun yang bisa diciptakan mesin tersebut. Masyarakat kemudian sengaja dipecah menjadi kubu-kubu yang tak berujung. Bahkan mereka yang hanya menyatakan solidaritas di dunia maya pun diburu dan ditangkap tanpa ragu. Namun justru kitalah yang dituduh menciptakan kekacauan.
Izinkan aku bertanya dengan terus terang: Siapa yang menghancurkan hutan Kalimantan dan Papua, mengubahnya menjadi perkebunan sawit yang tak berujung? Siapa yang membunuh gunung-gunung, meracuni sungai-sungai, dan meninggalkan kontaminasi serta kehancuran? Siapa yang membangun proyek nikel di Sulawesi dan mengusir masyarakat adat dari tanah mereka? Siapa yang bertanggung jawab atas Lapindo, bencana yang mengubur seluruh desa hidup-hidup? Siapa yang menembak ibu-ibu Papua yang mempertahankan otonomi mereka?
Para penjahat sejati itu tidak pernah ditangkap. Mereka dilindungi, didanai, dan dirayakan oleh negara. Kontradiksi-kontradiksi itu sangat nyata. Kerusakan yang mereka timbulkan tak terukur, namun mereka berjalan bebas sementara kita membusuk di dalam kandang mereka.
Akhirnya, aku mengucapkan terima kasih kepada kalian semua—keluargaku, sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku. Maafkan tulisan tanganku yang buruk, dan maafkan jika kata-kataku kurang terdengar revolusioner. Hehe.
Kita hanya dipisahkan sementara. Semoga suatu hari kita bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik, di masa yang lebih ramah terhadap kehidupan. Sampai saat itu, jagalah diri kalian. Jalan di depan masih sangat panjang dan berbahaya.
Damai besertamu.
KOMAR
Penjara Maedang, Surabaya
29 April 2026
Open Letter from Comrade Komar, an Anarchist Prisoner from Chaos Star Case, August Uprising 2025
My friends and brothers and sisters,
inside and outside these walls,
Peace be upon you.
I’m writing this letter to let you know that, God willing, I’m doing alright. A while ago I came down with a mild fever, but alhamdulillah, I’m still holding on, still under His grace and protection. I hope all of you are safe, healthy, and kept well. Aamiin.
My dear friends,
I’ve lost count of how many letters failed before this one finally made it out. There are barely any writing supplies in here, and when there are, they never last long. Even now, as I write this, I’m still being kept in quarantine. I don’t know for how much longer. Though honestly, I don’t expect anything from being moved to another block. To me, it’s all the same. The only thing I truly want, the only thing I keep hoping for, is FREEDOM. I want to go home. I want to eat my mother’s cooking again. I want to sit with my family.
I’m writing this in a hurry, with very little to work with, so forgive me if my words feel scattered. Prison really does cripple part of the mind.
Recently, I got to see the outside world again, if only for those weekly court hearings. I was unbelievably happy. Emotional, even. Hehe. I got to meet old friends and new ones too. Thank you for coming, for standing in solidarity with me. I love you all.
I also heard that my brother Albi, who was being detained in Bandung, has finally been released. Alhamdulillah. It made me incredibly happy. I pray the others still locked up will soon breathe fresh air again too.
UNTIL EVERYONE IS FREE. UNTIL EVERY PRISON IS FLATTENED TO THE GROUND.
I’ve been imprisoned over the same case again. The moment I got out, ACAB—or what I call a disease—came to pick me up immediately. They traveled all the way from Surabaya just to carry out another ridiculous assignment. I’m sure they got something in return for arresting me. Who knows what. Things like this only make me trust the state even less. The state was never worthy of trust to begin with. LIARS! They will never hesitate to hunt down people who dare to say “no” to them. And maybe, in the end, it only ends with death.
While being held in quarantine, I’ve been trying to survive as best as I can. Life in here is deeply miserable. And it makes me wonder: since when did saying “no” to the state become forbidden? Since when does refusing obedience turn someone into a terrorist, a communist, a traitor, or whatever label they use for people who step out of line? Now let me ask another question: how could dissent not exist, when people are still capable of seeing, hearing, and feeling for themselves?
Look back for a moment—the events in Pati, where people rose against corrupt leaders who challenged and oppressed their own communities. Then the uprisings in August, when masses of protesters were arrested indiscriminately, dragged away like animals. And so many other incidents after that. Wasn’t all of this cultivated by the state itself?
In the middle of economic collapse, widespread poverty, and the looming threat of war, people eventually want only one simple thing: to eat, to survive, not to starve. And when desperation grows deep enough, people begin turning on one another. Killing one another. Consuming one another. Social war becomes inevitable.
The state is not separate from this. It is the hand directing the performance from behind the curtain.
Just think about it: people who take their anger to the streets are arrested and charged with destruction, vandalism, disorder, and whatever else they can invent. Then society is split apart into endless sides, pro and contra everywhere. Even those who merely express solidarity online are hunted down and arrested without hesitation. And somehow they are the ones accused of creating chaos and causing harm.
Alright then, let me ask again: who destroyed the forests of Kalimantan, Papua, and countless other islands to turn them into endless palm oil plantations? Who murdered the mountains by drilling into them and extracting their steam, poisoning the water and leaving behind salt, contamination, and ruin? Who built the nickel projects in Sulawesi and drove Indigenous communities off their own land? And Lapindo, the drilling disaster that drowned entire villages and buried lives that can never be recovered, who was responsible for that? Papuan mothers shot at for defending their autonomy. Honestly, there’s so much destruction I couldn’t possibly name it all.
And after all that devastation, what happens? Are the people responsible ever arrested? Ever punished in proportion to the damage they caused? Is there restoration? Can they ever return those places to what they once were? CAN THEY BRING ANY OF IT BACK? No! Because all of it was protected, funded, and planned by the state itself. The contradictions never end. I could go on forever talking about them. But the rest, I think, you can already see and understand for yourselves.
Lastly, I want to thank all of you—my family, my friends, my brothers and sisters. Forgive my terrible handwriting, and forgive me too if these words don’t sound revolutionary enough. Hehe.
We’re only separated for a little while. Hopefully one day we’ll meet again under kinder circumstances, in a better time than this. Until then, take care of yourselves. Be more careful out there. I think the road ahead is still very long.
Peace be upon you.
KOMAR
Medaeng Prison, Surabaya
April 29th, 2026

