{"id":904,"date":"2026-06-26T04:26:39","date_gmt":"2026-06-26T02:26:39","guid":{"rendered":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/?p=904"},"modified":"2026-06-26T12:34:54","modified_gmt":"2026-06-26T10:34:54","slug":"may-day-bandung-2026-tontonan-advokasi-dan-advokasi-sebagai-tontonan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/?p=904","title":{"rendered":"May Day Bandung 2026: Tontonan Advokasi dan Advokasi Sebagai Tontonan"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami tidak mengenal Mpe secara pribadi\u2014setidaknya sebelum kasus ini mempertemukan kami. Kami bukan bagian dari lingkar advokasi, bukan aktivis, bukan, dan bukan pula orang yang biasa ikut-ikutan ramai-ramai di balik layar gerakan. Kami hanyalah para liyan. Tapi kami jelas berpihak kepadanya. Anak muda Bandung yang ditangkap saat aksi May Day 2026 karena terlibat pembakaran, yang lalu dengan cepat dijerat tuduhan terorisme setelah Densus 88 menemukan koordinasi yang dilakukan oleh Mpe dan kawan-kawannya dalam grup WhatsApp. Konsekuensinya? Hukuman yang jauh lebih berat, tentu saja. Apakah Mpe sembrono? Tentu saja, tapi itu soal lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Awalnya beredar kabar bahwa ia sudah didampingi pengacara dari jaringan advokasi di Bandung. Foto surat penangkapan beredar, asumsi pun menyebar dengan nyaman. Tak seorang pun berpikir ada masalah yang tak tersentuh. Ternyata, setelah tiga minggu, baru terbongkar: Mpe tidak mendapat pendampingan independen sama sekali. Polisi hanya menyodorkan pengacara pilihan mereka sendiri. Pengacara \u201cnetral\u201d yang katanya melindungi hak tersangka, tapi berdasarkan pengalaman mereka yang pernah berurusan dengan hukum, dalam praktiknya bekerja untuk penyidik. Hasilnya? Interogasi panjang tanpa perlindungan yang sesungguhnya\u2014proses disiplin khas sistem peradilan yang tidak sekadar menghukum, melainkan mendisiplinkan tubuh dan jiwa, mengubah manusia menjadi objek yang mudah dikendalikan melalui pengawasan, isolasi, dan tekanan sistematis. Sesuatu yang telah terintegrasikan dengan baik ke dalam masyarakat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Baru setelah fakta tersebut terungkap, sebagian kawan mulai bergerak. Advokat independen akhirnya bersedia mendampingi, dana dikumpulkan dari lingkaran pertemanan di dalam dan luar negeri. Terlambat memang, tapi setidaknya tetap harus dilakukan. Yang lucu\u2014walau lebih tepatnya, memuakkan\u2014adalah melihat pihak-pihak yang sebelumnya tahu, tapi memilih diam atau membiarkan, tiba-tiba berebut ikut membantu, terutama soal penggalangan dana. Spektakel solidaritas yang termanifestasikan secara gamblang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kami sadar bahwa memang ada yang lebih parah, yaitu narasi yang terus dipelihara oleh sebagian aktivis berjubah ideologis. Mereka dengan mudah membedakan \u201cmereka\u201d (yang suci, terstruktur, representatif, beroperasi dalam kerangka aturan dan moralitas masyarakat) dengan \u201cyang liyan\u201d\u2014para perusuh muda yang dianggap sebagai orang-orang bermasalah. Narasi tersebut amat nyaman: membersihkan tangan sendiri sambil menjaga jarak dari apa pun yang dianggap kotor dan tak layak hidup di tengah masyarakat. Akibatnya dapat diprediksi dengan mudah, banyak yang ragu memberikan bantuan, dari yang memberikan sekian banyak alasan hingga yang menolak dengan secara terang-terangan. Dapat dipahami memang, soal bagaimana dalam masyarakat spektakuler yang disesaki dengan citra dan konsumsi ini, kami semua adalah orang-orang bermasalah. Kami adalah adalah sebagian kecil yang berjuang demi menolak terintegrasi, yang tak mau menjadi bagian dari tontonan yang jinak, rapi, dan produktif. Kritik kami terhadap tatanan ini memang berujung pada pengucilan\u2014dan menurutku itu adalah konsekuensi yang harus diterima dengan sadar, oleh Mpe dan juga oleh mereka yang melihat pada Mpe refleksi diri mereka sendiri: yang kotor, bermasalah, ceroboh, liar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sementara para aktivis itu sendiri, dengan segala retorika dan organisasinya, tak lebih sekadar bagian integral dari masyarakat tontonan yang mereka klaim mereka kritik. Jubah ideologi mereka berakhir sebagai representasi belaka, pertunjukan yang menakjubkan namun kosong, jauh dari pembebasan yang esensial selain ketertundukan lebih jauh ke dalam masyarakat. Sementara sistem penjara dan hukum terus bekerja seperti mesin disiplin: menjinakkan, mengklasifikasikan, dan memproduksi subjek yang patuh. Panoptikon yang sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena itu, jangan harap kami akan berpura-pura bijak atau menyerukan \u201csolidaritas moral\u201d yang manis sebagaimana banyak dilakukan oleh aktivis. Kami tidak percaya pada moralitas masyarakat spektakuler ini. Bagi kami, yang dibutuhkan bukan ilusi kesatuan dengan aktivis yang sudah nyaman di dalam sistem<em>\u2014<\/em>termasuk mereka yang memberikan klaim tidak bekerja di dalam sistem<em>\u2014<\/em>melainkan jaringan advokasi dan dukungan yang harus kita bangun sendiri; tanpa drama representasi, tanpa bergantung pada mereka yang pada akhirnya akan selalu memilih menjaga citra jauh lebih dahsyat daripada konsekuensi nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mpe bukan korban yang perlu dikasihani demi narasi suci. Ia adalah bagian dari penolakan yang kami semua pahami risikonya. Kasus ini semakin menyatakan bahwa sekaranglah waktu yang tepat untuk berhenti berharap pada aktor-aktor spektakuler dan mulai bekerja dari posisi yang sesungguhnya: <em>menggerogoti sistem<\/em>, bukan malah mempertahankannya agar dapat terus tegak berdiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">PALANG HITAM INTERNATIONAL <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><em>May Day Bandung 2026: The Spectacle of Advocacy and Advocacy as Spectacle<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>We do not know Mpe personally\u2014at least not until this case brought us into relation with him. We are not part of the advocacy circles, not activists, nor are we the sort who habitually bustle behind the scenes of movement theater. Yet we stand unequivocally on his side. He is a young man from Bandung arrested during the May Day 2026 demonstration for taking part in acts of arson, swiftly charged with terrorism after Densus 88 uncovered his coordination with others via WhatsApp groups. The consequence? Far heavier sentences, of course. Was Mpe reckless? Undoubtedly\u2014but that is beside the point.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>At first, word circulated that he had already secured legal counsel from Bandung\u2019s advocacy networks. Photographs of the arrest warrant spread, and comfortable assumptions followed. No one suspected any deeper rot. Only after three weeks did the truth surface: Mpe had received no independent defense whatsoever. The police merely offered lawyers of their own choosing. These \u201cneutral\u201d advocates, who supposedly safeguard the rights of the accused, in practice\u2014as those familiar with the machinery of law well know\u2014serve the investigators. The result? Prolonged interrogation without genuine protection\u2014a classic disciplinary process in which the judicial and carceral system does not merely punish, but molds bodies and souls, transforming living subjects into controllable objects through systematic surveillance, isolation, and pressure. All of it seamlessly integrated into the functioning of society.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Only once this reality was exposed did some comrades begin to move. An independent advocate was eventually secured, and funds were gathered from circles of affinity both inside and outside the country. Late, yes\u2014but necessary all the same. What is amusing\u2014though more accurately, nauseating\u2014is to watch those who previously knew and chose silence or inaction suddenly scramble to participate, especially in the spectacle of fundraising. A spectacular solidarity, shamelessly performed.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>We are aware that something even more insidious persists: the narrative carefully maintained by certain ideologically cloaked activists. They effortlessly distinguish \u201cus\u201d (the pure, the structured, the representative, operating within the rules and morality of society) from \u201cthem\u201d\u2014the young rioters cast as the problematic ones, the undesirable elements. This narrative is supremely convenient: it allows them to wash their hands while maintaining a safe distance from anything deemed dirty or unfit for life within the social order. The predictable outcome follows: hesitation to offer aid, from those inventing endless excuses to those who openly refuse. This is understandable, for in this society of the spectacle\u2014saturated with images and consumption\u2014we are all problematic. We are the minority that consciously refuses integration, that rejects becoming another docile, orderly, and productive element in the spectacle. Our critique of this order necessarily leads to social exclusion\u2014and that is a consequence we must accept with full awareness: Mpe, and all those who see in him a reflection of themselves: the dirty, the problematic, the reckless, the untamed.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Meanwhile, the activists themselves, with all their rhetoric and organizations, are nothing but integral components of the very spectacle they claim to criticize. Their ideological robes end up as mere representation\u2014dazzling yet empty performances that lead not to essential liberation but to deeper submission. The prison and judicial system continues its work as a perfect disciplinary machine: taming, classifying, and producing obedient subjects. A flawless Panopticon.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Therefore, do not expect us to feign wisdom or issue saccharine calls for \u201cmoral solidarity\u201d as so many activists do. We place no faith in the morality of spectacular society. For us, what is required is not the illusion of unity with those already comfortably embedded in the system\u2014even those who loudly proclaim they are not\u2014 but rather the autonomous networks of advocacy and mutual support that we must construct ourselves: without the drama of representation, without dependence on those who will always prioritize the preservation of their image far above real consequences.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Mpe is not a victim to be pitied for the sake of some sacred narrative. He is part of a refusal whose risks we all understand. This case only confirms that the time has come to stop placing hope in spectacular actors and to begin working from our actual position: undermining the system from within, rather than helping to prop it up so that it may continue to stand.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>PALANG HITAM INTERNATIONAL<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<hr class=\"wp-block-separator has-alpha-channel-opacity\" \/>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kami tidak mengenal Mpe secara pribadi\u2014setidaknya sebelum kasus ini mempertemukan kami. Kami bukan bagian dari lingkar advokasi, bukan aktivis, bukan, dan bukan pula orang yang biasa ikut-ikutan ramai-ramai di balik layar gerakan. Kami hanyalah para liyan. Tapi kami jelas berpihak kepadanya. Anak muda Bandung yang ditangkap saat aksi May Day 2026 karena terlibat pembakaran, yang &hellip; <\/p>\n<p class=\"link-more\"><a href=\"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/?p=904\" class=\"more-link\">Continue reading<span class=\"screen-reader-text\"> &#8220;May Day Bandung 2026: Tontonan Advokasi dan Advokasi Sebagai Tontonan&#8221;<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"author":14326,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[135,3],"tags":[],"class_list":["post-904","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles","category-artikel"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/904","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/14326"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=904"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":909,"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/904\/revisions\/909"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=904"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=904"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/palanghitamanarkis.noblogs.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=904"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}